Breaking News
Categories
  • BERITA POLRI
  • Berita se Asia
  • BERITA TNI
  • BERITA UTAMA
  • BREAKING NEWS
  • Business, Article Marketing
  • Business, Careers
  • Business, Sales
  • Business, Small Business
  • Communications, GPS
  • Daerah
  • Deli Serdang
  • DKI JAKARTA
  • Humas Polda Babel
  • Informasi Kegiatan
  • International
  • Jambi
  • Kerinci
  • Kota Bitung
  • Kota Sungai Penuh
  • KPU Kota Bitung
  • Malang
  • MANADO
  • Manado Sulawesi Utara
  • Minahasa Utara
  • Mision Day STT Satyabhakti
  • Nasional
  • Pemerintahan
  • Perhimpunan Mahasiswa.Indonesia
  • Perkuliahan
  • Politik
  • Polres Bangka Induk
  • Polres Bitung
  • PROV. ACEH
  • Sosial
  • STT Satyabhakti
  • SULAWESI UTARA
  • Sumatera Utara
  • Sungailiat
  • TNI – POLRI
  • Membentuk Hati Misi: Refleksi Seminar Penginjilan dari Teori ke Praktik di STT Satyabhakti

    Jun 22 202571 Dilihat

    Malang, 15-17 Oktober 2024 – Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti (SATI) di Malang menyelenggarakan Seminar Kebangkitan Kebangunan Rohani (KKR) bertema “Penginjilan: Dari Teori ke Praktik.” Acara ini berlangsung selama tiga hari di Gedung Aletheia lantai 3 dan menghadirkan berbagai narasumber berpengalaman. Salah satu pembicara utama adalah Pdt. Frans Onesimus Kansil, S.Th, yang merupakan Gembala Sidang GSJA Tarakan, Ketua BPD GSJA Kalimantan Utara, serta Penggerak KAPN (Kobarkan Api Penginjilan Nusantara), Departemen Misi Nasional GSJA Tarakan.

     

    Selain Pdt. Kansil, seminar ini turut menghadirkan tokoh inspiratif lainnya seperti Salvinus Tupen, seorang mantan preman, Simson David Pioh, mantan petinju nasional, dan Rudy Gunawan, pengusaha tambak udang asal Tarakan. Kehadiran mereka diharapkan dapat memperkaya pemahaman para peserta tentang penginjilan dan menginspirasi mereka untuk menerapkan prinsip-prinsip tersebut dalam kehidupan nyata, membawa semangat penginjilan ke berbagai pelosok Nusantara.

     

    Acara ini dihadiri oleh mahasiswa/i, dosen, serta staf SATI yang antusias untuk mendalami dan menerapkan prinsip penginjilan dalam kehidupan sehari-hari. Agustinus Dermawan, Ketua STT SATI, menjelaskan bahwa tujuan diadakannya seminar ini adalah untuk menanamkan pentingnya penginjilan dalam misi gereja. “Visi SATI adalah menjadi sekolah Pentekosta terdepan yang mencetak lulusan yang siap menjadi hamba Tuhan dan pemimpin rohani dengan jiwa misi. Penginjilan adalah bagian dari misi,” ungkapnya.

     

    Agustinus juga mengutip survei Bilangan Research yang menunjukkan semakin sedikit gereja yang aktif dalam penginjilan. “Akibatnya, pertumbuhan gereja seringkali hanya berasal dari perpindahan jemaat dari gereja satu ke gereja lain,” tambahnya. Melalui seminar ini, ia berharap para peserta bisa menyadari pentingnya penginjilan dan termotivasi untuk berperan aktif dalam misi tersebut.

     

    Dalam sesi pembukaan, Frans Kansil menyuarakan keprihatinannya terhadap semakin berkurangnya semangat penginjilan saat ini. “Penginjilan adalah benih yang ditabur; mungkin hasilnya belum tampak, namun prosesnya tetap berjalan. Saat kita memberitakan Injil, percayalah bahwa Tuhan menyertai kita dengan kuasa-Nya,” tegasnya. Ia mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan pelayanan di dalam dan luar gereja serta mengandalkan kuasa Roh Kudus dalam setiap upaya penginjilan. “Setan tidak takut pada gelar atau pengetahuan kita, tetapi ia gentar ketika kita dipenuhi Roh Kudus,” ujar Frans. Ia menekankan bahwa metode tanpa pengurapan Roh Kudus tidak akan berdampak, dan keyakinan akan kuasa Injil beserta urapan Roh Kudus adalah kunci efektivitas pemberitaan Injil.

     

    Selvanus, yang berbagi kisah pribadinya, menceritakan bagaimana ia pertama kali menginjili tetangganya yang kemudian menerima Yesus. “Generasi ini masih dipakai Tuhan. Kita semua dipanggil untuk bersaksi bagi mereka yang belum mengenal Tuhan Yesus,” katanya. Sebagai mantan preman, ia mengakui bahwa Tuhan mengubah hidupnya agar bisa bersaksi bagi orang lain. Ia menekankan bahwa keberanian dan kemampuan untuk membangun hubungan baik sangat penting dalam penginjilan, dan semuanya dimulai dari usaha mencoba. “Ketika kita memiliki hati untuk mencoba, pasti ada jalan keluar,” ungkapnya.

     

    Simson juga berbagi pandangannya bahwa bersaksi seharusnya menjadi gaya hidup yang konsisten dan terus-menerus. “Kita bisa belajar dari Yosua (Yosua 1:7), yang tidak mundur dari panggilannya. Jika kita mengabaikan panggilan Tuhan, akan ada konsekuensi yang kita rasakan,” ujarnya. Simson menekankan bahwa dalam bersaksi, karakter dan integritas sangat penting, serta kemampuan untuk memilih kata-kata yang tidak menyakiti perasaan orang lain. “Saat kita tidak memiliki beban dalam menginjil, itu adalah tanda bahwa kita harus waspada terhadap pengaruh roh seperti roh Yunus, yang enggan menyelamatkan orang lain,” tambahnya.

    Rudi, seorang pengusaha, memperkuat pesan Simson dengan menekankan bahwa penginjilan seharusnya menjadi bagian dari gaya hidup kita sehari-hari. “Dimanapun kita berada, jadilah diri sendiri dengan karakter dan gaya yang Tuhan telah berikan. Dengan cara ini, kita bisa menyampaikan Injil kepada siapa saja,” ujarnya. Rudi juga menyoroti pentingnya melanjutkan penginjilan dengan pemuridan untuk membangun komunitas iman yang kuat. Ia menjelaskan bahwa Roh Kudus memainkan peran penting dalam hidupnya dan menjadi penolong dalam memberitakan Injil. “Roh Kudus selalu mengingatkan saya dalam berbagai hal, termasuk ketika saya menyampaikan Injil,” tambahnya.

    Setelah sesi utama, seminar ini diakhiri dengan sesi tanya jawab yang dinamis, di mana para peserta bertanya mengenai tantangan penginjilan serta cara untuk mengatasinya. Para narasumber memberikan wawasan berharga dan dorongan untuk memberitakan Injil dengan keberanian serta mempercayakan kuasa Tuhan dalam setiap tindakan mereka.

    Christian Inarkombu, salah satu mahasiswa, merasa puas dengan materi yang disampaikan. “Materi ini memberikan langkah-langkah praktis yang relevan, khususnya dalam konteks penginjilan. Para pembicara mendorong kita untuk menjadikan penginjilan sebagai kebiasaan hidup sehari-hari, yang menurut saya sangat menarik dan relevan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa meskipun metode yang diberikan sangat membantu, semuanya tetap bergantung pada tuntunan dan kuasa Roh Kudus. “Dibutuhkan kepekaan serta ketergantungan kepada Allah untuk berhasil dalam penginjilan,” tambahnya.

    Welle, mahasiswa lainnya, menyampaikan komitmennya untuk menjadi pengaruh positif melalui penginjilan dan menciptakan hubungan yang bermakna dengan orang di sekitarnya. Sementara itu, Grace Tarigan mengaku terinspirasi oleh kesaksian Frans Kansil, yang menekankan keberanian dan tekad dalam penginjilan. “Saya ingin agar orang-orang yang saya injili bisa menerima Yesus melalui kesaksian saya,” ujarnya dengan penuh semangat.

    Jeremy membagikan transformasi pandangannya tentang penginjilan setelah mengikuti seminar. “Sebelum mengikuti seminar ini, saya berpikir penginjilan hanya sekadar proses menyadarkan seseorang yang tidak percaya kepada Tuhan menjadi percaya, tanpa menggunakan metode atau mengikuti budaya orang yang diinjili. Namun, saya menyadari bahwa penginjilan bukan hanya tentang membuat seseorang percaya, melainkan bagaimana kita sebagai pemberita dapat menyampaikan Injil dengan pertolongan Roh Kudus sehingga kabar baik itu dapat tersampaikan dan melekat di hati mereka,” ungkapnya.

     

    Selain itu, Jeremy juga menekankan pentingnya metode dalam penginjilan. “Awalnya, saya berpikir penginjilan tidak memerlukan metode, tetapi setelah mengikuti seminar, saya menyadari bahwa metode sangat dibutuhkan dan membantu dalam proses penginjilan,” tambahnya. Pengalaman paling berkesan baginya terjadi saat ia melakukan penginjilan di Alun-Alun kota Malang, di mana ia bertemu dengan seorang bapak bernama Markiban. “Saya menggunakan metode 5P, dan itu sangat membantu saya dalam proses penginjilan. Saat bapak tersebut menceritakan kisah hidupnya, saya bertanya, ‘Pak, apakah saya bisa menceritakan kisah hidup saya?’ dan ia memberi saya kesempatan untuk bercerita,” ceritanya.

     

    Dalam kesempatan itu, Jeremy memasuki perbincangan rohani mengenai keselamatan. “Saya menggunakan langkah-langkah yang diajarkan selama seminar, dan itu sangat menolong saya dalam menyampaikan Injil. Respons bapak tersebut sangat baik, dan itu membuat saya senang dan sedikit kaget,” jelasnya. Di akhir perbincangan, Jeremy meminta izin untuk mendoakan bapak tersebut. “Puji Tuhan, ia mengizinkan saya untuk berdoa. Selama doa, bapak itu menjawab ‘amin, amin,’ seperti yang dilakukan oleh kaum Pentakosta. Menurut saya, itu adalah pekerjaan Roh Kudus,” tuturnya. Bagi Jeremy, pengalaman ini adalah salah satu yang paling berkesan dalam praktik penginjilan, menunjukkan bagaimana metode dan kepekaan Roh Kudus dapat berdampak besar dalam menyampaikan pesan Injil.

     

    Michelle juga berbagi tentang momen-momen yang menginspirasi selama seminar. “Saya sangat terinspirasi melalui kesaksian para pemateri mengenai pelayanan mereka dalam dunia misi. Penginjilan yang dibekali dengan keberanian hingga menjadikannya sebagai gaya hidup bukanlah hal yang mudah. Namun, mereka yang lebih tua dengan semangat muda mampu mencapainya. Saya sebagai anak muda merasa tertantang oleh pelayanan mereka,” ujarnya. Michelle berharap bahwa materi, kesaksian, doa, dan motivasi yang diberikan dapat memicu semangat semua murid Yesus, terutama di SATI. “Semoga semua yang kami pelajari dapat mendorong kami untuk lebih aktif dalam penginjilan,” tambahnya.

     

    Lebih lanjut, Michelle mengungkapkan harapannya untuk terus belajar dan berkembang dalam misi penginjilan. “Saya senang dengan kesempatan yang diberikan kepada kami mahasiswa untuk terlibat dalam penginjilan. Jujur saja, jika tidak ada kesempatan seperti ini, saya ‘enggan’ untuk melakukan penginjilan. Namun kini, saya berharap dapat mengubah rasa malas dan takut tersebut. Saya ingin memberikan ‘obat’ yang ada pada saya, yaitu Kabar Baik yang bisa menyembuhkan penyakit jiwa orang-orang di luar sana, dengan hati yang penuh kasih,” ungkapnya penuh semangat. Dengan inspirasi yang ia peroleh, Michelle berkomitmen untuk menjadi lebih aktif dalam penginjilan dan menyebarkan kasih Tuhan kepada orang lain.

     

    Sementara itu, Jannice Setiawan menyampaikan ketertarikannya terhadap metode 3M yang diperkenalkan selama seminar. “Metode ini menarik karena memungkinkan kita untuk menginjil hanya dalam waktu tiga menit. Saya penasaran dengan metode ini, karena biasanya penginjilan membutuhkan waktu yang lebih lama,” tambahnya.

     

    Irma, di sisi lain, berbagi tentang perasaannya setelah mengikuti seminar. “Perasaan yang saya rasakan luar biasa dan diberkati, dengan setiap materi maupun kesaksian yang luar biasa tentang apa yang dilakukan Tuhan dalam pelayanan penginjilan hamba-hamba-Nya,” katanya. Pengalaman paling berkesan bagi Irma adalah saat dia bisa menceritakan Yesus Isa Al-Masih kepada mahasiswa, mahasiswi, dan juga bapak-bapak yang beragama Islam. “Saya mendoakan mereka dan mereka mau membuka hati untuk mendengar dan didoakan,” ungkapnya dengan penuh sukacita.

     

    Setelah mengikuti seminar ini, Galatia Christiani merasa terinspirasi untuk bangkit dari berbagai masalah yang dihadapi. “Perasaan saya ada yang terbentuk untuk bisa bangkit dari masalah yang sedang saya hadapi. Dari seminar ini, saya bisa sedikit melawan rasa takut dan lebih mendekat lagi kepada Tuhan,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya hubungan yang baik dengan Tuhan. “Intinya, saya makin rindu untuk dekat dengan Tuhan. Saya lebih ingin memberitakan Injil dan berelasi dengan semua orang dengan cara yang baik dan sopan,” tambahnya.

     

    Welle, mahasiswa SATI, berbagi langkah-langkah yang direncanakannya dalam upaya penginjilan. “Langkah-langkah yang harus saya lakukan adalah memperlengkapi diri melalui setiap pelatihan atau seminar yang dapat meningkatkan keterampilan penginjilan saya. Selain itu, saya juga berencana terlibat aktif dalam setiap kegiatan sosial, yang akan menunjukkan cinta dan kasih Kristus melalui tindakan nyata kepada masyarakat di sekitar saya,” ungkapnya. Welle menambahkan bahwa ia berencana untuk menciptakan kelompok kecil dan melakukan mentoring. “Saya ingin mengajak mereka untuk belajar lebih banyak tentang iman yang mereka percayai dan membangun hubungan dengan orang-orang di sekitar. Dengan menciptakan hubungan yang baik, saya berharap penginjilan akan lebih mudah dan berdampak baik,” jelasnya.

     

    Tentang harapannya untuk orang-orang yang diinjili, Welle berharap agar mereka dapat mengenal Yesus Kristus secara lebih sungguh-sungguh sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka. “Saya berharap mereka dapat menemukan kedamaian, pengharapan, dan tujuan hidup yang benar melalui iman mereka kepada Yesus Kristus,” tutupnya.

     

    Rafika memberikan pandangannya mengenai relevansi materi seminar dengan kehidupan sehari-hari. “Saya merasa sulit untuk menempatkan diri di sini, dan kurang adanya konsistensi dari pihak yang berbicara. Misalnya, mereka mengatakan penginjilan itu mudah, tetapi mereka sendiri mungkin mengalami banyak kegagalan,” ujarnya. Ia menyoroti perbedaan pemikiran antar pembicara, di mana ada yang menyarankan untuk langsung bertanya tentang agama, sedangkan ada yang menyatakan bahwa itu tidak etis, terutama di Malang. Rafika juga menilai bahwa materi seminar kurang dapat diterapkan di tempat perkuliahan, khususnya di STT. Ia mengusulkan agar pada seminar berikutnya ada topik tentang pengalaman penginjilan yang didampingi oleh orang profesional langsung, agar peserta dapat lebih memahami praktik penginjilan dengan lebih baik.

     

    Jannice Setiawan menyampaikan saran terkait seminar penginjilan yang diadakan. “Saran saya, adakan seminar yang belum pernah mahasiswa SATI ikuti, karena seminar mengenai penginjilan sudah terlalu sering dan kami sudah mendapatkannya di seminar-seminar sebelumnya. Selain itu, saya juga berharap para pembicara tidak terlalu mengulang apa yang sudah dibicarakan dan tidak bertele-tele,” ujarnya.

     

    Di akhir seminar, para pemateri menyampaikan visi dan harapan mereka. Frans mengungkapkan visinya yang kuat untuk gereja Tuhan di Indonesia. “Visi yang Tuhan taruh dalam hati saya adalah akan ada kebangkitan gereja Tuhan di Indonesia melalui pemberitaan Injil. Gereja Tuhan akan bangkit menjadi saksi Kristus di marketplace mereka,” ujarnya. Frans melanjutkan harapannya untuk peserta pelatihan penginjilan. “Saya berharap mereka yang telah mengikuti pelatihan ini akan mulai memiliki hati yang bersemangat untuk mengasihi semua orang dan memberikan Injil di mana saja ada kesempatan, serta membawa banyak orang kepada Yesus.”

    Share to

    Related News

    Warga Minta Turun Anggota DPR RI Komisi ...

    by Sep 12 2026

    Fokusjurnalis.com, BELAWAN, Sabtu 12 September 2026 — Aktivitas pengangkutan dan dugaan penyalahgu...

    Cut & Fill di Seberang TPU Sei Tami...

    by Sep 12 2026

          Fokusjurnalis.Com-BATAM — Aktivitas penggalian dan pengurugan tanah (cut &...

    Wamen ATR/Waka BPN: Pelantikan Pejabat J...

    by Sep 11 2026

    Fokusjurnalis.com, Jakarta – Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang/Wakil Kepala Badan Pertanaha...

    Dugaan Langsir Solar Subsidi di Belawan ...

    by Sep 10 2026

    Fokusjurnalis.com, BELAWAN, Kamis 10 September 2026 — Aktivitas pengangkutan dan dugaan penyalahgu...

    Didukung Kolaborasi Lintas Sektor, Penet...

    by Sep 10 2026

    Fokusjurnalis.com, Jakarta – Penetapan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) secara nasi...

    Hinca Panjaitan Desak APH Ungkap Tuntas ...

    by Sep 09 2026

    Fokusjurnalis.com, MEDAN UTARA, Rabu 9 September 2026 — Aktivitas yang diduga merupakan penyimpana...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    KPU KOTA BITUNG

    Other News

    Enrichment Perintis-Perintis Kota GSJA 2025: Re...


    Malang dan Surabaya – Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA) mengadakan kegiatan Enrichment Perintis-Perintis Kota 2025 yang bertujuan untuk membek...

    04 Mar 2025

    Kadis LH Bolmong Terima Penghargaan Dari Menter...


    Bolmong, Fokusjurnalis – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia menggelar Appreciation Night dalam rangkaian...

    10 Agu 2024

    Dimeriahkan Pocil, Polda Sulut Gelar Syukuran H...


    MANADO, Fokus Jurnalis — Polda Sulawesi Utara menggelar syukuran Hari Lalu Lintas Bhayangkara ke-69 dengan tema “Polantas Presisi Ha...

    25 Sep 2024

    Polres Batu bara Gerebek Sarang Narkoba Dua Pel...


    Polres Batu bara Gerebek Sarang Narkoba Dua Pelaku Diamankan   PoldasuFokusJurnalis:Dalam rangka mendukung program Pemberantasan Penyalahgu...

    29 Apr 2026

    Laporan Warga ke Call Center 110 Berbuah Penind...


    Laporan Warga ke Call Center 110 Berbuah Penindakan, Tiga Terduga Penyalahguna Narkoba Diamankan di Huntap Ture-ture   PoldasuFokusJurnalis...

    26 Apr 2026

    Polda Sumut Bongkar Jaringan Narkoba di Simalun...


    Polda Sumut Bongkar Jaringan Narkoba di Simalungun-Batubara, Mahasiswa hingga Bandar 245 Gram Sabu Diciduk   PoldasuFokusJurnalis:Polda Sum...

    18 Mei 2026

    Gandeng APDESI, Satlantas Polres Bangka Sosiali...


    FOKUS JURNALIS BANGKA, Merawang – Dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya keselamatan berlalu lintas, Satuan Lalu Li...

    19 Des 2024

    Pimpinan Umum Ferry Mamangkey

    back to top