Malang & Surabaya – Enrichment Perintis-Perintis Kota GSJA 2025 tidak hanya menjadi ajang pembelajaran, tetapi juga pengalaman yang memberikan dampak mendalam bagi para peserta.
Acara yang diadakan di Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti (SATI) Malang pada 17-20 Februari 2025 dan di International Christian Assembly (ICA) Surabaya pada 22-23 Februari 2025 ini telah membekali para perintis gereja dengan wawasan, strategi, dan semangat baru dalam pelayanan perkotaan.
Banyak peserta menyatakan bahwa acara ini telah memperkaya wawasan mereka dalam pelayanan.
Boksen Sitepu, yang telah mengikuti Enrichment Perintis-Perintis Kota selama tiga tahun berturut-turut dan kini melayani di Medan, menegaskan bahwa acara ini membangun kehidupan rohani sekaligus memberikan bekal pengetahuan dalam merintis gereja di kota-kota besar.
“Saya akan merekomendasikan acara ini kepada orang lain karena kegiatan ini benar-benar membangun spiritualitas kami sebagai hamba Tuhan dan membekali kami dengan strategi pelayanan yang sangat relevan,” ungkap Boksen.
Yoel Gultom, seorang pelayan Tuhan di Pekalongan yang juga sudah tiga kali mengikuti acara ini, mengapresiasi materi yang membahas tentang memenangkan jiwa dan menjadikannya murid Kristus.
“Materi yang paling menarik bagi saya adalah tentang cara memenangkan jiwa, merawat, dan menjadikannya murid Kristus,” tuturnya.
Sementara itu, Michael Engka, peserta asal Palembang yang mengikuti acara ini untuk kedua kalinya, merasakan manfaat yang luar biasa.
“Saya merasa sangat diberkati karena acara ini memperlengkapi saya dalam banyak hal, seperti strategi pelayanan, semangat, serta ide-ide baru untuk diterapkan dalam pelayanan saya,” ucapnya.
Para peserta memiliki pengalaman yang berbeda dalam setiap sesi yang diikuti. Namun, beberapa sesi memberikan kesan mendalam bagi mereka.
Boksen Sitepu menyebutkan bahwa sesi yang dibawakan oleh Pdt. Budi Setiawan sangat menarik dan mudah dipahami. “Cara mengajarnya menarik dan sederhana, sehingga materi yang disampaikan lebih mudah dipahami,” ujarnya.
Selain itu, sesi doa fajar yang diadakan setiap pagi dari Selasa hingga Kamis juga menjadi momen yang berkesan bagi banyak peserta.
Doa bersama ini bukan hanya menjadi waktu untuk merenung dan bersekutu dengan Tuhan, tetapi juga memperkuat kebersamaan di antara para peserta.
Melalui berbagai sesi pelatihan, peserta merasakan adanya perubahan dalam cara pandang mereka terhadap pelayanan perkotaan.
Yoel Gultom menuturkan bahwa acara ini sangat membantu dalam membentuk nilai, strategi, dan visi pelayanan gereja setempat. “Pertama, kami diperlengkapi untuk memiliki nilai, strategi, dan visi di gereja setempat. Kedua, kami belajar cara menjangkau jiwa-jiwa baru,” katanya.
Michael Engka juga menambahkan bahwa kebersamaan yang terjalin selama acara memberikan semangat baru bagi para pelayan Tuhan.
“Atmosfer di acara ini sangat mendukung, kebersamaan dan suasana tempatnya nyaman dan indah,” ujarnya.
Dengan berbagai pengalaman dan wawasan yang didapatkan, Enrichment Perintis-Perintis Kota GSJA 2025 diharapkan terus menjadi wadah penguatan spiritual dan pengembangan kapasitas bagi para perintis gereja di Indonesia.
Acara ini bukan hanya sebuah pelatihan, tetapi juga tempat bagi para pelayan Tuhan untuk bertumbuh dan memperluas dampak pelayanan mereka di tengah tantangan zaman.
(Penulis: Gabrella T. M. Harianja)
No comments yet.