STT Satyabhakti, Malang, melakukan Kuliah Umum dan seminar dengan topik ‘Pelatihan Pemakaian PBIK-Indonesia dengan memperhatikan Tafsiran Surat Yakobus’. Kuliah Umum dan seminar ini dilakukan di gedung Aletheia lantai 3, pada 9 September 2024, pukul 08.00-12.15 WIB.
Acara ini dihadiri oleh mahasiswa-mahasiswi, dosen, dan staf Sati, serta gembala-gembala gereja lokal dari Malang, Plampangan, Lawang, Batu, Ketindan, Pasuruan, Kepuharjo, Kedawung, Tanggul, Pait, Kesamben, Boro, dan Surabaya.

Fotografer: Robby
Menariknya, Pdt. Hasan Sutanto tidak datang sendiri, beliau ditemani oleh sang istri yang masih terlihat begitu cantik. Beliau juga membawa beberapa karyanya, seperti: Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia dan Konkordansi Perjanjian Baru, Hermeneutik: Prinsip dan Metode Penafsiran Alkitab, Homeletik: Prinsip dan Metode Berkhotbah, Tafsiran Surat Yakobus: Berita Perdamaian yang Patut Didengar, dan lainnya.

Peserta foto bersama dengan Narasumber | Fotografer: Kaleb Sibarani
Oleh karena itulah, Kuliah Umum dan Seminar tersebut sangat dinanti-nantikan, pasalnya yang mengisi Kuliah Umum pada semester ini adalah Pdt. Hasan Sutanto, D. Th., yang membuat PBIK.
“Alasan mengapa sekolah menghadirkan Pak Hasan Sutanto bagi Kuliah Umum dan Seminar di Sati, karena Pdt. Hasan Sutanto, D. Th., adalah salah satu dari sekian banyak Teolog tanah air yang memiliki kepakaran di bidang Biblika. Itu terlihat dari karya–karya beliau yang sudah menjadi referensi utama di studi Hermeneutik dan Homeletik di tanah air. Karya–karya beliau memiliki pengaruh yang besar, terutama untuk membangun minat para pemberita firman, Mahasiswa Teologi, dan hamba -hamba Tuhan untuk menyampaikan kebenaran Alkitabiah secara tepat,” ujar Kaprodi S2, Yahya Afandi, M.A., M.Th.
“Gembala-gembala memang harus diperlengkapi dengan pengetahuan dan keterampilan untuk menggunakan PBIK,” lanjutnya, ketika ditanya, mengapa gembala-gembala jemaat juga turut hadir dalam Kuliah Umum dan Seminar ini.
PBIK sendiri adalah singkatan dari Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia dan Konkordansi Perjanjian Baru.
PBIK ini lahir dari sebuah kegelisahan sebagaimana yang disampaikan oleh Pdt. Hasan Sutanto, “Saya begitu resah dan gelisah, karena banyak seminari mengabaikan hal-hal kecil dari kitab suci, sehingga saya berjuang selama 8 tahun 7 bulan untuk dapat membuat PBIK.”
Dari apa yang disampaikan oleh Pdt. Hasan, beliau sangat berbeban mengajak orang Kristen membangun iman, pelayanan dan kehidupan mereka berdasarkan ajaran Alkitab. Beliau juga berbeban meningkatkan mutu pendidikan Teologis di Indonesia dengan cara menyediakan buku-buku yang ditulis dengan bahasa yang dikuasai pembaca dan dengan harga yang terjangkau.

Pdt. Hasan Sutanto, D. Th., ketika menyampaikan materi | Fotografer: Robby
Kuliah Umum dan Seminar ini menuai respons positif, seperti yang diungkapkan oleh Ferdy Ginting, Mahasiswa S1, “Materinya bagus, saya senang. Pemaparan materi beliau mengajak mahasiswa-mahasiswi Sati untuk lebih teliti dalam membaca Alkitab.”
Francis Ferdinand, juga Mahasiswa S1, mengatakan, “Materi yang diberikan seperti makanan yang bermutu dan berkasiat. Rasanya saya ingin terus belajar dengan beliau sampai beliau menyelesaikan semua materinya.”
Mitra Sinuhaji, Mahasiswa S2, menambahkan, “Materi yang beliau sampaikan sangat menarik untuk dicermati dan dipelajari, karena beliau bukan hanya fokus kepada teks, tetapi juga tentang latar sejarah terkait penulisan teks Alkitab.”
Ia juga berharap, agar hermeneutika di STT Satyabhakti semakin ditingkatkan, khususnya terkait latar historis penulisan teks, agar pesan mula-mula yang disampaikan penulis tidak meleset dan melebar ke mana-mana.
Pdt. Kukuh Priyono, M. Th., seorang gembala jemaat di Malang, juga memberikan respons, “Materi yang disampaikan sangat menantang secara akademis dan intelektual kita. Mendorong kita untuk belajar dengan sungguh-sungguh.”

Pemberian Sertifikat Penghargaan oleh Dra. Lilik Herawati, M.A., kepada Narasumber | Fotografer: Kaleb Siabarani
Kuliah Umum dan Seminar ini diakhiri dengan pemberian sertifikat penghargaan kepada Narasumber.
“Harapan saya terhadap sivitas akademika STT Satyabhakti, terutama mahasiswa, setelah mendengarkan pemaparan materi Pdt. Hasan adalah Mahasiswa makin terampil untuk mempergunakan berbagai macam alat bantu yang tersedia baik cetak maupun online untuk mempersiapkan proses eksegesis, proses penafsiran dan menyampaikan hasil eksegesis itu kepada pendengar. Terutama objek pelayanan yang ada agar mereka terhubung dengan berbagai macam pesan yang mungkin selama ini terselubung dan memerlukan bantuan para ahli kitab suci. Jadi harapan saya mahasiswa makin terampil menggunakan alat bantu yang ada dan makin menjadi berkah,” ujar Yahya Afandi, sekaligus menjadi perwakilan dari Ketua sekolah yang tidak dapat hadir di Kuliah Umum dan Seminar pada semester ini.
Penulis: Gabrella T. M. Harianja
Keren
Mantap sahabat,tetaplah berkarya kami selalu mendukung☺️
Terima kasih atas dukungannya…
Terima kasih banyak dukungannya, Gbu
Terimakasih