Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti, Malang, memberikan lingkungan pembelajaran dan pembentukan karakter yang sangat unik melalui tiga gedung asrama, yaitu Asrama Iman, Asrama Pengharapan, dan Asrama Kasih. Ketiga asrama ini mampu menampung hingga 220 mahasiswa, termasuk adanya fasilitas apartemen khusus untuk mahasiswa yang sudah berkeluarga. Kebijakan kampus mewajibkan mahasiswa yang belum menikah untuk tinggal di asrama, kecuali jika ada izin khusus dari pimpinan atas dengan alasan yang kuat.
STT Satyabhakti merancang asrama tidak hanya sekadar memberikan tempat tinggal, tetapi juga sebagai sarana pembentukan karakter dan persiapan pelayanan rohani. Salah satu kebijakan unik di STT Satyabhakti adalah adanya rotasi kamar setiap semester. Anggota kamar, baik pria maupun wanita, akan bertukar kamar secara rutin. Tujuan utama kebijakan ini adalah untuk memastikan mahasiswa saling mengenal satu sama lain, memperluas jangkauan pergaulan, dan membangun relasi yang lebih erat di antara mereka.
Selain itu, interaksi sehari-hari di asrama memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar hidup bersama dalam komunitas yang beragam. Mereka diajarkan untuk memahami perbedaan, mengelola konflik, dan bekerja sama dalam berbagai aktivitas. Pengalaman para alumni membuktikan bahwa kehidupan berasrama di STT Satyabhakti memberikan dampak jangka panjang.
Bagi Betsy, salah satu alumni (angkatan 1998) yang kini menjadi ibu gembala, belajar mengampuni dan melupakan kesalahan orang lain dan itu adalah pelajaran terbesar yang ia dapatkan ketika tinggal di asrama.
“Di asrama, kita diproses melalui interaksi dengan orang-orang di sekitar kita. Kita harus belajar berbesar hati untuk terus mengampuni dan melupakan, karena jika tidak, kita sendiri yang akan terus merasa sakit,” ungkapnya.
Ia juga menekankan bahwa pengalaman ini mengajarkannya untuk tidak menilai orang dari luarnya saja. “Terkadang, orang yang kita anggap baik justru melukai paling menyakitkan. Sementara itu, orang yang terlihat ‘judes’ atau ‘jahat’ sering kali mengajari saya banyak hal. Bahkan, saya merasa lebih dekat dengan mereka, karena sikap mereka yang ternyata ada sebabnya. Ketika kita mau belajar, kita justru mendapat pelajaran berharga dari mereka.”
Pelajaran ini terus Betsy terapkan hingga sekarang, baik dalam dunia kerja maupun pelayanan. “Ketika kita mau belajar dari kehidupan, Tuhan pasti memberikan promosi bagi kita,” tutupnya.
Pengalaman serupa juga dirasakan oleh Manuel Sinaga (angkatan 2018). Salah satu kebiasaan yang ia pelajari selama tinggal di asrama adalah sikap saling tolong-menolong.
“Kehidupan di asrama membuat saya terbiasa hidup dalam kebersamaan dan kerja sama. Kebiasaan ini terus saya praktikkan hingga kini, terutama dalam pelayanan,” ujarnya.
Sikap tolong-menolong tidak hanya menjadi kebiasaan, tetapi juga membentuk karakter pelayanan Manuel untuk selalu peduli terhadap kebutuhan orang lain.
Bagi Billy (angkatan 2009), asrama meninggalkan kesan berbeda. Ia mengenang masa-masa di asrama sebagai awal kebiasaannya mengoleksi buku, khususnya buku-buku teologi.
“Sejak tinggal di asrama, saya suka mengoleksi buku-buku teologi. Kebiasaan ini terus berlangsung hingga sekarang. Bahkan, sekarang saya punya perpustakaan pribadi di rumah,”
Selain memberikan pengalaman pembentukan karakter, kehidupan asrama juga meninggalkan kesan mendalam bagi para mahasiswa yang saat ini tinggal di asrama. Beberapa di antara mereka berbagai aspek yang paling mereka nikmati selama tinggal di asrama:
“Bagi saya, hal yang paling menyenangkan adalah bisa saling berbagi dengan teman sekamar, bahkan dengan orang-orang yang tinggal di kampus. Selain itu, hidup di asrama memberikan pengalaman baru yang sangat berharga,” ungkap Desy Kamanasa, mahasiswi semester 4.
Felicia Sihite juga menambahkan bahwa kebersamaan adalah salah satu aspek yang paling ia nikmati. “Saya sangat menikmati kebersamaan dengan anggota kamar. Kami bisa saling berkomunikasi dan saling mendukung satu sama lain,” katanya.
Sisi lain, Icha menyadari bahwa proses pembentukan diri adalah bagian penting dalam mempersiapkan dirinya menjadi seorang hamba Tuhan.
“Banyak hal yang dibentuk dalam diriku selama tinggal di asrama,” ungkap Icha. Salah satu aspek utama yang ia rasakan adalah kedisiplinan.
“Saya pribadi dulunya sangat tidak disiplin, baik dalam hal waktu maupun keuangan. Tapi, dengan tinggal di asrama, saya belajar bahwa saya harus siap dan menerima proses pembentukan ini,” lanjutnya.
Keberagaman latar belakang di asrama memberikan pengalaman yang berharga bagi para mahasiswa, khususnya bagi para alumni. Kehidupan bersama ini tidak hanya memperluas wawasan, tetapi juga membentuk kepekaan dan kemampuan mereka dalam pelayanan yang sedang mereka lakukan.
“Bagi saya, perbedaan latar belakang justru menjadi kesempatan untuk belajar memahami orang lain dari perspektif mereka. Meskipun pemahaman saya belum sempurna, saya terus belajar untuk bersosialisasi, tidak egois, dan menghargai setiap orang yang saya temui selama hidup di asrama,” ungkap Manuel.
Ia menambahkan bahwa pengalaman ini juga mengajarkannya pentingnya saling menolong. “Selama tinggal di asrama, saya belajar bahwa menolong orang lain adalah bagian penting dari hidup bersama dan menjadi bekal berharga dalam pelayanan,” jelasnya.
Pengalaman tinggal di asrama bersama teman-teman yang beragam memberikan dampak nyata bagi Billy dalam dunia pelayanan. “Di dalam pelayanan, saya jadi bisa bergaul dengan jemaat dari berbagai latar belakang. Lebih dari itu, saya juga belajar untuk berempati kepada mereka yang membutuhkan,” kata Billy.
Kehidupan asrama di STT Satyabhakti memberikan berbagai keuntungan dan keunggulan yang sangat penting dalam mempersiapkan mahasiswa menjadi rohaniawan. Asrama tidak hanya menawarkan tempat tinggal, tetapi juga sebuah lingkungan yang penuh dengan proses pembentukan karakter, kedisiplinan, dan interaksi dalam komunitas yang beragam. Kebijakan rotasi kamar, kerja sama dalam kehidupan sehari-hari, serta pembelajaran dari perbedaan latar belakang, memberikan dasar yang kuat bagi mahasiswa untuk belajar menghargai orang lain, mengelola konflik, dan melayani dengan empati.
Penulis: Gabrella T.M. Harianja
No comments yet.