
redaktur • Apr 28 2025 • 130 Dilihat
Kamis, 25 April 2025 – Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti Indonesia (SATI) mendapat kesempatan istimewa dengan kehadiran tim dari gerakan City to City, sebuah gerakan global yang berfokus pada pelatihan dan pendampingan untuk penanaman gereja dan revitalisasi gereja di pusat-pusat urban.
Ibadah sekaligus seminar ini berlangsung di Gedung Aletheia lantai 3, dan diikuti oleh seluruh civitas akademika serta mahasiswa STT SATI.
Tak hanya dari lingkungan kampus, acara ini juga dihadiri oleh sejumlah Church Planter dari berbagai gereja, seperti GBT, GBI Rock, Gibeon Church, dan Diaspora Sejahtera.

Michael Chrisdion yang menjadi narasumber dari jaringan City to City di Indonesia, menyampaikan pentingnya kembali kepada inti dari seluruh pelayanan Kristen, yaitu Injil.
“DNA Injil adalah memahami bagaimana Injil membentuk seluruh kehidupan,” ujarnya.
Menurut Michael , Injil tidak hanya berbicara soal keselamatan pribadi, tetapi juga membentuk seluruh aspek hidup, termasuk bagaimana gereja hadir dan bertindak di tengah masyarakat.
Michael menjelaskan bahwa fokus pelayanan kepada kota sangat strategis, mengingat Indonesia merupakan bagian dari Asia Pasifik, wilayah yang dihuni oleh 60% populasi dunia.
Urbanisasi yang pesat menjadikan kota sebagai pusat budaya, ekonomi, dan pengaruh sosial.
Ia mendorong para peserta untuk tidak hanya kembali ke pelayanan asal atau mengikuti pola lama secara otomatis, melainkan berani bertanya kepada Tuhan: “Tuhan, ini aku. Utuslah aku.”
Meski sudah banyak gereja berdiri di kota-kota besar, Michael menekankan bahwa panggilan untuk merintis gereja baru tetap sangat relevan. Ada dua alasan utama:
Pertama, panggilan esensial Yesus adalah merintis gereja baru. Merintis berarti memahami konteks lokal, bukan sekadar menyalin bentuk gereja yang sudah ada.
Kedua, strategi Paulus dalam Alkitab menunjukkan bahwa ia pergi ke kota-kota besar, mendirikan gereja, dan membangun komunitas iman di sana. Mandat ini masih berlaku hingga sekarang.
Michael menguraikan beberapa keunggulan gereja baru dalam konteks urban:
Seminar ini menjadi momen refleksi yang mendalam bagi mahasiswa dan peserta lain untuk memikirkan kembali arah pelayanan mereka.
Kota-kota di Indonesia, dengan segala kompleksitas dan peluangnya, menjadi ladang misi yang membutuhkan gereja-gereja baru yang berakar kuat pada Injil dan terbuka terhadap perubahan zaman.
Kehadiran City to City menguatkan keyakinan bahwa panggilan untuk merintis gereja tidak hanya relevan, tetapi juga mendesak untuk generasi masa kini.
Salah satu yang turut merasakan dorongan ini adalah Ivan Bong, seorang Church Planter yang hadir dalam seminar. Dalam wawancara singkat, ia membagikan sedikit tentang latar belakang pelayanannya dan bagaimana keterlibatannya dalam gerakan City to City.
“Dalam pelayanan, saya mulai merintis gereja pada tanggal 13 November 2023. Dorongan untuk merintis gereja berawal ketika saya mendengar seorang hamba Tuhan berkata bahwa orang yang menjadikan Kristus sebagai pusat kehidupannya harus sungguh-sungguh menghidupi Injil. Pernyataan itu sangat menggerakkan hati saya untuk menjangkau orang-orang non-Kristen, membawa mereka kepada Kristus, dan akhirnya merintis sebuah komunitas gereja.
Terkait keterlibatan saya dalam gerakan City to City, sebenarnya saya sudah mengenal konsep “Kristus sebagai pusat” sejak tahun 2022, melalui berbagai pertemuan dengan tokoh-tokoh gereja dan pelatihan. Dari sanalah saya mulai lebih memahami visi City to City dan pada akhirnya resmi bergabung dalam jaringan ini pada tahun 2024.”
Ia juga menyampaikan prinsip dan nilai apa dari City to City yang ia pegang erat dalam pelayanannya.
“Prinsip yang paling saya pegang dari City to City adalah berpusat kepada Injil. Konsep ini sangat penting bagi saya, karena saat pertama kali memahami bahwa seluruh hidup harus berpusat pada Injil, saya sendiri mengalami pertobatan — tidak hanya dalam hal keselamatan, tetapi juga dalam hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi saya, Injil bukan sekadar dasar awal pertobatan, tetapi menjadi kekuatan yang terus menerus mengubah hidup. Saya diingatkan bahwa semua aktivitas saya — baik dalam pelayanan, pekerjaan, maupun kehidupan sehari-hari — harus lahir dari ucapan syukur atas anugerah keselamatan dari Kristus, bukan dari usaha diri sendiri.
Seperti yang dikatakan dalam Roma 1:16, Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan semua orang yang percaya. Prinsip ini menjaga motivasi saya tetap murni dan mencegah pelayanan saya menjadi sia-sia. Saya melayani bukan untuk mengejar pencapaian pribadi, melainkan sebagai respons kasih atas apa yang Kristus sudah lakukan terlebih dahulu.”
Selain menerima paparan dari narasumber, beberapa peserta juga membagikan hal-hal baru yang mereka pelajari melalui sesi wawancara.
Josua Sihotang, salah satu mahasiswa SATI, mengungkapkan bahwa seminar ini membuka pemahamannya tentang pentingnya perintisan gereja baru.
“Dari seminar malam ini, saya menerima fakta baru bahwa perintisan gereja atau komunitas rohani baru membuka peluang hadirnya jiwa-jiwa baru dalam skala yang lebih besar dibandingkan gereja lama yang sudah banyak jemaatnya. Hal ini terjadi karena perintisan gereja baru lebih efektif dan kontekstual dalam menjangkau jiwa,” ujarnya.
Sementara itu, Martin Sipayung, mahasiswa lainnya, menyatakan bahwa meskipun konsep pelayanan kota bukan hal yang asing baginya, ada satu pelajaran penting yang ia dapatkan dari seminar ini.
“Sebenarnya seminar ini sudah pernah saya dengar sebelumnya melalui berbagai literatur, misalnya dari Rick Warren. Tetapi malam ini saya mendapatkan pelajaran baru tentang pentingnya menjadi hamba Tuhan yang rendah hati ketika ada gereja lain yang hadir di lingkungan pelayanan kita,” tutur Martin.
Ia menambahkan, “Sering kali gereja lain dipandang sebagai saingan, padahal seharusnya kita membangun solidaritas dan bekerja sama untuk memperluas Kerajaan Allah. Melalui seminar ini, saya melihat adanya kesatuan hati di antara para hamba Tuhan, dan itu menjadi insight penting bagi kami calon gembala, pengajar, dan misionaris.”
Ferdy Ginting, mahasiswa lainnya, membagikan refleksinya ketika ditanya tentang panggilan pelayanan di kota.
“Saya terpanggil melayani di gereja kota, dan seminar ini memberi pemahaman baru kepada saya bahwa perlu ada penambahan gereja di kota. Kota menjadi tempat berkumpulnya banyak perantau, baik untuk kuliah maupun bekerja. Dengan bertambahnya gereja, para perantau tetap dapat merasakan suasana ibadah, bahkan memiliki kesempatan untuk berjemaat dalam jangka waktu yang lama,” ujarnya.
Otniel Limbong, salah satu mahasiswa SATI, mengungkapkan bahwa ada bagian dari seminar yang sempat bertentangan dengan pemahamannya.
“Bagian tentang ‘merintis terus-menerus walaupun sudah banyak gereja’ awalnya terasa bertentangan dengan pemahaman saya. Seolah-olah menunjukkan obsesi untuk terus merintis tanpa mempertimbangkan kawan sekerja yang sudah ada di wilayah tersebut,” ujarnya.
Otniel menambahkan bahwa walaupun potensi gesekan ini masih bersifat kemungkinan, antisipasi tetap perlu diperhatikan agar pelayanan tetap berjalan dalam semangat persatuan, bukan persaingan.
Di sisi lain, suasana seminar juga dipenuhi dengan rasa syukur dan apresiasi. Cherendita Tuny, salah satu peserta, menyampaikan rasa terima kasihnya kepada narasumber.
“Terima kasih kepada Ps. Michael atas pemaparan tentang pelayanan di kota yang telah membuka wawasan saya sebagai mahasiswa. Saya sangat bersyukur atas dedikasi dan kesabaran beliau dalam membagikan ilmu dan pengalaman. Meskipun waktu yang diberikan singkat, saya berharap dapat menerapkan ilmu yang saya peroleh untuk membuat perbedaan positif dalam kehidupan masyarakat,” ungkapnya.
Cherendita juga bertekad untuk membangun jaringan dan relasi yang luas, menyesuaikan diri dengan konteks lokal, serta menggunakan strategi yang tepat untuk meningkatkan efektivitas pelayanan di masa depan.
Demikian juga Ferdy Ginting menyampaikan rasa terima kasihnya.
“Terima kasih kepada para narasumber yang telah membuka wawasan saya tentang pentingnya pelayanan di kota. Seminar ini membuat saya menyadari bahwa penambahan gereja di kota sangat dibutuhkan untuk menjangkau para perantau, baik yang datang untuk kuliah maupun bekerja. Melalui pemahaman ini, saya semakin terdorong untuk melayani dan mendukung pertumbuhan gereja di wilayah perkotaan,” ungkap Ferdy.
Semangat yang tercipta sepanjang seminar juga diungkapkan juga oleh Otniel Limbong. Dengan antusias, ia berkata,
“Semangat Pentakosta sangat nyata dalam seminar ini!”
Seminar bersama tim City to City bukan hanya membuka wawasan baru tentang pentingnya perintisan gereja di tengah dinamika kota, tetapi juga meneguhkan panggilan banyak peserta untuk terlibat aktif dalam pelayanan urban. Melalui materi yang disampaikan dan refleksi yang dibagikan, para peserta—baik mahasiswa maupun para perintis gereja—didorong untuk melihat pelayanan kota sebagai ladang misi yang strategis dan penuh tantangan.
Penulis: Gabrella T.M. Harianja
Malang, 19 Mei 2025 — Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti (SATI) Malang menggelar kegiatan donor da...
Malang, 18 Mei 2024 — Sekolah Tinggi Teologi (STT) Satyabhakti Malang kembali mengadakan acara ser...
Malang, 29 April 2025 – Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti (STT SATI) Malang kembali menunjukkan k...
Malang – Rabu, 3 April 2025 Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti (STT Sati) secara resmi mengadakan ...
Apa Itu Hari Misi? Hari Misi Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti (STT Sati) adalah kegiatan rutin tah...
Malang, 21 Maret 2025 – Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti (STT Sati) kembali mengadakan Seminar d...

Malang dan Surabaya – Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA) mengadakan kegiatan Enrichment Perintis-Perintis Kota 2025 yang bertujuan untuk membek...
Bolmong, Fokusjurnalis – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia menggelar Appreciation Night dalam rangkaian...
Fokusjurnalis.com, Kabupaten Pasuruan – Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) sedang melakukan pemutakhir...
Fokusjurnalis, Bitung – Bencana alam erupsi Gunung Ruang Tagulandang di Kabupaten Sitaro, menyisakan luka yang mendalam bagi para Pengungs...
Fokusjurnalis.com, Manado — Kompolnas RI bekerja sama dengan Human Rights Working Group (HRWG), menggelar Sosialisasi Kertas Posisi...
Viral Ibu Laporkan Dugaan Transaksi Narkoba, Polresta Deli Serdang Bergerak Amankan Dua Terduga Pelaku PoldasuFokusJurnalis:Aksi cepat ja...
Kota Bitung, Fokus Jurnalis — Bentuk netral itu sangat penting di momentum Pilkada, hal ini BAWASLU Kota Bitung laksanakan sosialisasi pen...


No comments yet.