
redaktur • Feb 10 2025 • 165 Dilihat
Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti, Malang (SATI) memberikan peluang bagi calon mahasiswa-mahasiswi yang rindu mengikuti pendidikan di SATI, namun tidak mampu membayar biaya pendidikannya.
Program yang diadakan oleh SATI adalah program Beasiswa Kerja (BSK).
Peran program BSK bukan hanya sekadar bantuan finansial bagi mahasiswa, tetapi juga menjadi sarana pelatihan keterampilan manajemen waktu.
Melalui program ini, mahasiswa belajar membagi waktu antara tanggung jawab akademik, pekerjaan, dan kehidupan pribadi dengan lebih efektif.

Makan Bersama: BSK Tinggal
Mahasiswa yang mengikuti program BSK menghadapi tantangan dalam menyeimbangkan jadwal yang padat.
Tidak hanya harus mengikuti perkuliahan dan mengerjakan tugas akademik, mereka juga harus mengikuti event-event yang diselenggarakan kampus, dan mereka juga memiliki tanggung jawab pekerjaan dalam kampus.

BSK di Koperasi Kampus
Wisye Kristian, alumni angkatan 2003 yang kini melayani sebagai gembala di Alor, menuturkan bahwa program BSK sangat membantunya dalam membangun keterampilan manajemen waktu.
“Saya belajar untuk bekerja tanpa gengsi dan mengatur waktu dengan baik agar dapat menyelesaikan pendidikan tepat waktu,” ungkapnya.
Dalam pelayanannya saat ini, Wisye mengakui bahwa membagi waktu antara tanggung jawab gereja, keluarga, dan kehidupan pribadi bukanlah hal yang mudah.
“Jujur, saya agak sulit membagi waktu, tetapi yang saya lakukan adalah bersikap fleksibel. Namun, sebisa mungkin saya menentukan prioritas agar semua tanggung jawab dapat terselesaikan dengan baik,” jelasnya.

Raymond Talila: BSK di Kebun
Raymond Talila, alumni angkatan 2020 yang kini melayani di Surabaya, juga membagikan pengalamannya.
“Menetapkan tujuan itu penting, tetapi harus fleksibel. Saya tidak bisa memperkirakan dengan pasti berapa lama waktu yang saya perlukan untuk mencapai suatu tujuan. Oleh karena itu, saya lebih fokus pada menyelesaikan tugas kecil yang mendukung tujuan besar. Dengan begitu, waktu yang saya gunakan lebih efektif dan tidak terbuang sia-sia,” paparnya.
Dalam pelayanannya saat ini, Raymond menjelaskan bahwa pembagian waktu juga bergantung pada pemantapan target.
“Kita perlu menata target dengan baik. Ada tujuan besar yang harus kucapai, tetapi untuk mencapai tujuan besar itu, ada target-target kecil yang harus kuselesaikan. Namun, dalam menetapkan target, aku juga harus memastikan bahwa waktu tidak terbuang sia-sia. Meskipun ritme pekerjaanku mungkin berbeda-beda, aku tetap berada di jalur yang benar dan sesuai dengan target yang telah ditentukan. Dengan begitu, semuanya menjadi jelas dan terarah,” tuturnya.

Memperbaiki Keramik yang Pecah
Selain membantu mahasiswa mengatur waktu, program BSK juga berdampak positif pada nilai akademik dan produktivitas sehari-hari.
Nathanael Pardede, mahasiswa S1, mengungkapkan bahwa program ini membuatnya lebih fokus dalam belajar. “Sejauh ini aman, pengaruhnya naik,” ujarnya.

Nathanael Pardede: BSK di Maintenance
Dalam hal efektivitas waktu, BSK juga berperan besar dalam mengurangi waktu yang terbuang percuma.
Nathanael menambahkan, “Setidaknya tidak terlalu banyak waktu yang dibuang untuk hal yang tidak berguna. Di BSK juga banyak ilmu non-akademik yang didapat.”
Hal ini juga diperkuat oleh Yusak Setiawan, mahasiswa S1, yang mengatakan bahwa BSK sangat bermanfaat karena membantu mahasiswa memprioritaskan hal yang penting.

Sara Banea: BSK di Perpustakaan
Sara Banea, mahasiswi S1, juga merasakan manfaat besar dari program ini.
“Sangat membantu karena dari adanya program BSK inilah saya sendiri dapat membagikan waktu saya ke hal-hal yang lebih penting ketimbang ke hal-hal yang menguras tenaga tanpa adanya sebuah perubahan dalam diri.”
Sejauh Mana Keterampilan Manajemen Waktu Berguna dalam Pelayanan?
Aprice, alumni angkatan 1985 yang kini menjadi seorang gembala di Malang, Jawa Timur, menyatakan bahwa keterampilan manajemen waktu yang diperoleh dari BSK sangat membantunya dalam dunia pelayanan.
“Dari BSK, kita belajar mengatur waktu antara bekerja dan belajar. Dalam pelayanan, saya sudah terbiasa menggunakan waktu secara efektif dan selalu tepat waktu,” katanya.
Grace Tambunan, alumni angkatan 2000 yang kini aktif melayani sebagai gembala di Parapat, Sumatera Utara, menuturkan bahwa kebiasaan membagi waktu yang didapat dari BSK sangat memengaruhi pola pelayanannya.
“Saat di BSK, teman-teman mungkin bisa tidur siang, tetapi saya harus menyelesaikan jam kerja 9 jam sehari selama 5 hari, sementara Sabtu dan Minggu digunakan untuk pelayanan praktik di gereja lokal. Hal ini membuat saya terbiasa membagi waktu dengan bijak dalam pelayanan, mulai dari kunjungan jemaat, mendoakan orang sakit, persiapan khotbah, hingga pelayanan misi.”
Grace Tambunan juga menyoroti bagaimana program BSK melatih mahasiswa dalam menghadapi tekanan dan beban tugas yang datang bersamaan.
“Menjadi terbiasa dengan tekanan dan jadwal yang padat membuat kita tidak mudah menyerah. Selain itu, program ini membentuk karakter rendah hati. Kita tidak seperti teman lain yang bisa bebas menikmati waktu luang. Ada banyak keterbatasan, tetapi itu justru membangun mental yang kuat. Jelas, ini sangat menolong dalam pelayanan, sehingga kita tidak menjadi pendeta yang mudah menyerah dan meninggalkan pelayanan,” ujarnya.

Membakar Sampah
Para alumni yang telah merasakan manfaat program BSK memberikan saran bagi mahasiswa saat ini agar dapat memanfaatkan pengalaman ini dengan sebaik-baiknya.
Wisye mengingatkan agar mahasiswa tidak merasa gengsi mengikuti program BSK, karena di dunia pelayanan nanti, tanggung jawab kerja jauh lebih besar.
Menikmati saja prosesnya, karena pengalaman BSK akan membuat seseorang semakin menghargai panggilan Tuhan dalam hidupnya. Program BSK juga memperkaya pengalaman kuliah dan menjadi kesaksian nyata bagi jemaat serta generasi berikutnya.
Aprice menambahkan bahwa mahasiswa perlu menggunakan waktu dengan bijak, setia, dan bertanggung jawab dalam perkara kecil, serta belajar untuk rendah hati.

Memotong Rumput
Sementara itu, Raymond menekankan bahwa disiplin dan tanggung jawab harus berasal dari kesadaran pribadi, bukan hanya karena aturan. Jika dilakukan dengan sungguh-sungguh, kebiasaan baik ini akan terus terbawa dalam dunia pelayanan dan kehidupan setelah lulus. Dengan demikian, keterampilan yang diperoleh dari program BSK tidak hanya membantu mahasiswa dalam masa studi mereka, tetapi juga membentuk pola hidup yang berkelanjutan dalam pelayanan dan kehidupan sehari-hari.
Akhirulkalam, program Beasiswa Kerja (BSK) di Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti sangat berperan penting dalam membentuk keterampilan manajemen waktu mahasiswa.
Mahasiswa belajar membagi waktu antara studi, pekerjaan, dan tanggung jawab pribadi, sehingga lebih disiplin dan efisien dalam menjalani kehidupan akademik maupun pelayanan.
Para alumni yang telah merasakan manfaat program ini menegaskan bahwa kebiasaan mengelola waktu dengan baik terus terbawa ke dalam dunia pelayanan dan kehidupan setelah lulus.
Dengan disiplin, kesadaran pribadi, dan tanggung jawab yang terlatih sejak dini, program BSK membentuk karakter mahasiswa agar siap menghadapi tantangan yang lebih besar di masa mendatang.
Penulis: Gabrella T.M. Harianja
Fokusjurnalis.com, BELAWAN, Sabtu 12 September 2026 — Aktivitas pengangkutan dan dugaan penyalahgu...
Fokusjurnalis.Com-BATAM — Aktivitas penggalian dan pengurugan tanah (cut &...
Fokusjurnalis.com, Jakarta – Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang/Wakil Kepala Badan Pertanaha...
Fokusjurnalis.com, BELAWAN, Kamis 10 September 2026 — Aktivitas pengangkutan dan dugaan penyalahgu...
Fokusjurnalis.com, Jakarta – Penetapan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) secara nasi...
Fokusjurnalis.com, MEDAN UTARA, Rabu 9 September 2026 — Aktivitas yang diduga merupakan penyimpana...

Malang dan Surabaya – Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA) mengadakan kegiatan Enrichment Perintis-Perintis Kota 2025 yang bertujuan untuk membek...
Bolmong, Fokusjurnalis – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia menggelar Appreciation Night dalam rangkaian...
Fokusjurnalis.com, Jumat 27 Maret 2026, Deli Serdang – Dugaan praktik penadahan tandan buah segar (TBS) dan brondolan sawit ilegal milik B...
Fokusjurnalis.com, Selasa 17 Februari 2026, BINJAI – Informasi mengenai dugaan keberadaan gudang penampungan Crude Palm Oil (CPO) ilegal d...
FokusJurnalis.com, /Minahasa Tenggara – Aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang diduga beroperasi di lahan milik Ko Fery Lap...
Fokusjurnalis.com, Sleman – Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, mengarahkan agar tran...


No comments yet.