
redaktur • Nov 11 2024 • 193 Dilihat
Malang, 29 Oktober 2024— Sekolah Tinggi Teologi (STT) Satyabhakti, Malang, menggelar seminar bertema “Pendidikan Resiliensi”pada hari Selasa, 29 Oktober 2024. Seminar yang berlangsung dari pukul 11.15 hingga 12.15 WIB. Seminar ini dihadiri oleh mahasiswa serta civitas akademika STT Satyabhakti.
Seminar ini menghadirkan Pdt. Justitia Vox Dei Hattu, Th.D., seorang pemikir dan akademisi terkemuka yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua IV Sekolah Tinggi Filsafat Theologi (STFT) Jakarta serta Ketua Perhimpunan Sekolah-sekolah Teologi di Indonesia (Persetia).
Pdt. Justitia mengangkat topik Pendidikan Resiliensi, menyoroti pentingnya kemampuan adaptasi dalam menghadapi tekanan hidup yang semakin berat. Beliau menyampaikan bahwa situasi saat ini, dengan berbagai masalah serta tuntutan tugas yang semakin meningkat, sering kali membawa individu ke ambang burnout. Dosen tersebut menekankan bahwa resiliensi, atau daya lenting, menjadi keterampilan esensial yang perlu dikembangkan untuk menjaga keseimbangan mental dan fisik dalam menghadapi tantangan.
Pdt. Justitia memulai seminar dengan menggali konsep resiliensi, yaitu kemampuan untuk bertahan dan pulih dari berbagai tantangan, kesulitan, dan kegagalan. Menurut beliau, resiliensi bukan hanya tentang kekuatan untuk menghadapi kesulitan, tetapi juga kemampuan untuk berfungsi dengan baik dalam keadaan penuh tekanan dan keluar dari situasi tersebut dengan lebih baik.
Beliau menggambarkan resiliensi dengan analogi bola basket yang dilemparkan lalu kembali naik — menggambarkan daya lenting yang dimiliki seseorang dalam menghadapi kehidupan.
Pdt. Justitia juga menekankan bahwa resiliensi bukanlah kualitas yang didapat dalam semalam, melainkan sebuah proses seumur hidup yang berkembang seiring pengalaman yang dihadapi. Setiap individu memiliki cara berbeda dalam menghadapi kesulitan, dan setiap kesulitan membutuhkan daya resiliensi yang berbeda pula.
Dalam seminar ini, Pdt. Justitia menjelaskan bahwa resiliensi dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu faktor internal dan eksternal.
Faktor internal meliputi kecerdasan, yang tidak hanya berkaitan dengan IQ, tetapi juga kemampuan untuk berpikir kritis dan kreatif dalam menghadapi tantangan. Kesehatan mental juga merupakan faktor penting, karena kemampuan untuk melihat situasi dari berbagai perspektif dan mengelola perasaan dapat membantu seseorang bertahan dalam kesulitan. Selain itu, regulasi diri—yaitu kemampuan untuk mengatur emosi, tugas, dan waktu dengan baik—adalah hal yang mendukung perkembangan resiliensi seseorang.
Sementara itu, faktor eksternal juga berperan besar dalam membentuk resiliensi. Dukungan sosial dari relasi yang baik, seperti keluarga, teman, dan komunitas, sangat penting untuk membangun ketahanan individu. Lingkungan sekitar, seperti sekolah atau institusi, juga turut mempengaruhi perkembangan resiliensi, karena lingkungan yang mendukung dapat memberikan fondasi yang kuat untuk menghadapi tantangan hidup.
Pdt. Justitia menambahkan bahwa resiliensi bisa diperbaharui atau “diisi ulang” melalui cara-cara seperti mendapatkan istirahat yang cukup dan merawat diri, termasuk memberi waktu untuk beristirahat dari gadget dan lebih jujur terhadap perasaan yang sedang dialami.
“Resiliensi bukan berarti harus selalu kuat, tetapi lebih kepada kemampuan untuk terus maju meskipun dalam kondisi yang sulit,” ujar beliau.
Setelah materi disampaikan, seminar ini menuai berbagai respons dari para peserta yang hadir, baik mahasiswa maupun dosen. Tanggapan mereka menunjukkan bahwa materi tentang resiliensi tidak hanya memberikan wawasan baru, tetapi juga menginspirasi mereka untuk menerapkan konsep tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi Herlina, salah satu mahasiswi yang mengikuti seminar, materi yang disampaikan sangat membantu dirinya dalam memahami cara mengelola emosi dan stres. Herlina merasa bahwa memberi lebih banyak waktu untuk mengevaluasi diri sendiri dan memastikan waktu istirahat yang cukup adalah cara yang sangat efektif.
“Memberikan waktu untuk beristirahat ternyata sangat ampuh untuk saya. Saya merasa lebih tenang dan siap menghadapi kesulitan setelah beristirahat,” ungkap Herlina.
Selain itu, seminar ini juga mendorongnya untuk lebih produktif dan menghindari kebiasaan menunda-nunda pekerjaan.
“Dengan lebih mengatur waktu dan tidak menunda-nunda, saya bisa lebih teratur dan mengurangi rasa stres. Ini sangat membantu saya dan mudah diterapkan dalam keseharian,” tambahnya.
Yobel, seorang mahasiswa skripsi, juga merespons dengan sangat positif terhadap materi seminar. Menurutnya, apa yang menarik dari seminar ini adalah pemahaman bahwa setiap orang memiliki daya tahan yang berbeda ketika menghadapi kesulitan hidup.
“Sering kali, kita dengan niat baik memberikan dukungan seperti, ‘Kamu pasti bisa melewatinya, sama seperti Ayub yang berhasil melewati masa sulitnya.’ Namun, kita sering lupa bahwa setiap orang memiliki cara dan kapasitas yang berbeda dalam menghadapi masalah. Tugas kita sebenarnya adalah menunjukkan rasa empati, bukan membandingkan dengan orang lain,” ujarnya.
Yobel menekankan bahwa resiliensi juga penting dalam mencapai tujuan hidup, khususnya di tengah ketidakpastian yang sering kita hadapi.
“Resiliensi mengajarkan kita untuk bisa beradaptasi dengan situasi yang tidak menentu dan terus maju meskipun banyak tantangan di depan,” katanya. Bagi Yobel, resiliensi yang kuat juga sangat penting dalam perjalanan akademik.
“Sebagai mahasiswa yang sedang menyelesaikan skripsi, resiliensi membantu saya tetap fokus dan tidak mudah menyerah meskipun prosesnya bisa sangat berat,” tambahnya.
Yonathan Welan, mahasiswa lain, juga berbagi pandangannya tentang seminar ini. Menurut Yonathan, resiliensi yang paling efektif berawal dari dalam diri sendiri.
“Materi seminar ini sangat relate dengan kehidupan kita. Namun, saya percaya bahwa resiliensi yang paling kuat adalah yang berbasis pada kekuatan internal. Hal-hal yang bergantung pada diri kita sendiri sangat penting, terutama ketika lingkungan sosial kita tidak mendukung atau bahkan toxic,” ujar Yonathan.
Yonathan juga mengakui bahwa dukungan dari komunitas sosial yang positif tetap memiliki peran besar dalam mendukung proses resiliensi.
“Komunitas sosial bisa menjadi pola atau contoh yang baik untuk kita. Itu dapat membantu kita untuk meminimalkan tindakan berlebihan atau bahkan berperilaku toxic saat kita sedang berada dalam posisi tertekan. Lingkungan yang positif bisa memudahkan kita untuk tetap bertahan,” tambahnya.
Ferdy Ginting, mahasiswa skripsi STT Satyabhakti, berbagi pengalaman pribadi tentang bagaimana ia melatih resiliensi dalam menghadapi tugas-tugas kuliah. Menurut Ferdy, kunci resiliensi yang dia lakukan adalah dengan penyerahan diri kepada Tuhan. Ia mengungkapkan bahwa beberapa kali ia mencoba mengerjakan tugas tanpa meminta pertolongan melalui doa, namun hasilnya selalu mengecewakan.
“Rasanya otak saya tidak mampu berpikir apapun, malah jadi buntu dan terjebak dalam kebingungan. Saya merasa kesal karena tidak bisa fokus,” ujarnya.
Namun, setelah menyadari bahwa ia tidak melibatkan Tuhan dalam setiap langkah tugasnya, Ferdy mulai membiasakan diri untuk berdoa, baik di kamarnya ataupun di tempat doa seperti Getsemani, sebelum mulai mengerjakan apa pun.
“Sejak saat itu, saya merasakan ketenangan dalam mengerjakan tugas. Resiliensi menurut saya terjadi ketika seseorang menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Mungkin bagi sebagian orang ini terdengar seperti jawaban yang terlalu Pentakosta, tetapi bagi saya, tidak ada manusia yang mampu tanpa pertolongan Tuhan,” tuturnya.
Pengalaman Ferdy menunjukkan bahwa resiliensi tidak hanya soal kekuatan diri sendiri, tetapi juga tentang kedekatan spiritual dan bagaimana seseorang mampu menemukan ketenangan dalam menghadapi tekanan, baik dalam dunia akademis maupun kehidupan sehari-hari.
Meyu, seorang mahasiswa di STT Satyabhakti, berbagi kisah inspiratif tentang perjalanan hidupnya yang penuh tantangan dan bagaimana resiliensi—kemampuan untuk bangkit dari keterpurukan—menjadi kunci dalam mengatasi segala kesulitan. Bagi Meyu, perjalanan ini dimulai sejak masa remaja, ketika keluarganya menghadapi kesulitan ekonomi yang serius, membuat setiap hari terasa penuh dengan perjuangan.
“Di tengah kesulitan itu, saya menemukan harapan yang tidak terduga melalui iman kepada Tuhan,” kata Meyu, mengenang masa-masa sulitnya.
Ketika memasuki SMA, situasi keluarganya semakin memburuk, tetapi ia tidak menyerah. “Saya selalu percaya bahwa setiap kesulitan pasti ada jalan keluarnya. Saya yakin Tuhan tidak akan meninggalkan saya,” tambahnya.
Berkat dukungan doa dan semangat dari orang-orang terdekat, Meyu mulai melihat peluang yang sebelumnya tampak tak terjangkau. Dengan tekad dan usaha keras, ia berhasil meraih beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Di sinilah, menurutnya, resiliensi benar-benar diuji.
“Setiap kegagalan dan tantangan yang datang justru membuat saya semakin kuat. Saya belajar untuk tidak menyerah, meskipun keadaan tampak sangat sulit,” ujarnya.
Selain fokus pada akademik, Meyu juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial selama masa kuliah. Ia merasa penting untuk berbagi pengalaman hidup dengan teman-teman yang mungkin merasakan hal serupa.
“Dengan berbagi pengalaman, saya menemukan kekuatan baru dalam diri saya. Saya menyadari bahwa perjuangan saya bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi juga untuk orang lain yang mengalami kesulitan serupa,” kata Meyu.
Kisah perjuangan dan resiliensi Meyu menjadi bukti bahwa dengan iman, usaha, dan semangat pantang menyerah, kita bisa mengubah situasi sulit menjadi pelajaran berharga dan meraih mimpi yang dulu terasa jauh dari jangkauan.
“Saya percaya bahwa hidup tidak hanya tentang menghadapi kesulitan, tetapi juga bagaimana kita bangkit dari setiap kegagalan untuk menjadi lebih baik,” tutup Meyu, mengakhiri kisah inspirasionalnya.n
Gembala kampus, Cresensius Kurniawan, memberikan penutup yang menekankan pentingnya resiliensi, terutama bagi mahasiswa yang tinggal di asrama. Menurutnya, mahasiswa harus memiliki resiliensi agar bisa bertahan dan beradaptasi dengan perubahan kultur yang ada di asrama, yang terdiri dari beragam suku dan latar belakang yang berbeda.
“Asrama bukan hanya terdiri dari satu suku atau kelompok, melainkan beragam suku dan latar belakang yang berbeda-beda. Jika mahasiswa tidak memiliki resiliensi, mereka bisa kesulitan fokus pada pembelajaran dan malah terjebak dalam masalah sosial yang dapat mengganggu proses belajar mereka,” ujarnya.
Narasumber turut menyampaikan harapannya kepada peserta, “Harapan saya, para peserta lebih peka terhadap keadaan dan kondisi dirinya, terlebih ketika berhadapan dengan kesulitan. Selain itu, para peserta dapat mengembangkan kapasitas dirinya sehingga mampu bertahan dalam situasi sulit.”
Cresensius juga berharap agar mahasiswa dapat memahami dengan baik konsep resiliensi. Ia menekankan bahwa setiap orang memiliki tingkat resiliensi yang berbeda-beda, dan penting bagi mahasiswa untuk tidak menilai atau menganggap remeh masalah yang dihadapi oleh orang lain.
“Harapan saya adalah mahasiswa dapat memahami bahwa resiliensi itu bukanlah sesuatu yang bisa disamaratakan. Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam menghadapi tantangan mereka, dan kita tidak boleh menjustifikasi atau meremehkan masalah orang lain,” tutup Cresensius.
Cresensius juga berharap agar mahasiswa dapat memahami bahwa resiliensi tidak bisa disamaratakan. “Setiap individu menghadapi tantangan dengan cara yang berbeda, dan kita tidak boleh menilai atau menganggap remeh masalah yang dihadapi oleh orang lain,” ujarnya.
Sebagai penutup, beliau menekankan bahwa resiliensi adalah kualitas yang perlu terus dikembangkan, baik melalui kekuatan internal diri maupun dukungan eksternal yang ada.
(Penulis: Gabrella T. M. Harianja)
Malang, 19 Mei 2025 — Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti (SATI) Malang menggelar kegiatan donor da...
Malang, 18 Mei 2024 — Sekolah Tinggi Teologi (STT) Satyabhakti Malang kembali mengadakan acara ser...
Malang, 29 April 2025 – Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti (STT SATI) Malang kembali menunjukkan k...
Kamis, 25 April 2025 – Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti Indonesia (SATI) mendapat kesempatan ist...
Malang – Rabu, 3 April 2025 Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti (STT Sati) secara resmi mengadakan ...
Apa Itu Hari Misi? Hari Misi Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti (STT Sati) adalah kegiatan rutin tah...

Malang dan Surabaya – Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA) mengadakan kegiatan Enrichment Perintis-Perintis Kota 2025 yang bertujuan untuk membek...
Bolmong, Fokusjurnalis – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia menggelar Appreciation Night dalam rangkaian...
Malang – Rabu, 3 April 2025 Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti (STT Sati) secara resmi mengadakan pemilihan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) un...
Fokusjurnalis.com, Medan, 6 Desember 2025 – Kantor Pertanahan Kota Medan mengimbau kepada masyarakat untuk waspada terhadap berita hoax me...
Lewat Jumat Curhat, Polresta Deli Serdang Berikan Respon Terhadap Keluhan Masyarakat DS-Fokusjurnalis:Jumat (18/10/24), Polresta Deli Ser...
BITUNG, FOKUSJURNALIS.COM — Dalam tahapan pelaksanaan pemilihan umum untuk Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Utara serta Walikota dan...
Fokusjurnalis.com, MEDAN – Kantor Pertanahan Kota Medan menyerahkan sertipikat wakaf untuk Masjid Agung Medan sebagai bentuk dukungan terh...


No comments yet.