Breaking News
Categories
  • BERITA POLRI
  • Berita se Asia
  • BERITA TNI
  • BERITA UTAMA
  • BREAKING NEWS
  • Business, Article Marketing
  • Business, Careers
  • Business, Sales
  • Business, Small Business
  • Communications, GPS
  • Daerah
  • Deli Serdang
  • DKI JAKARTA
  • Humas Polda Babel
  • Informasi Kegiatan
  • International
  • Jambi
  • Kerinci
  • Kota Bitung
  • Kota Sungai Penuh
  • KPU Kota Bitung
  • Malang
  • MANADO
  • Manado Sulawesi Utara
  • Minahasa Utara
  • Mision Day STT Satyabhakti
  • Nasional
  • Pemerintahan
  • Perhimpunan Mahasiswa.Indonesia
  • Perkuliahan
  • Politik
  • Polres Bangka Induk
  • Polres Bitung
  • PROV. ACEH
  • Sosial
  • STT Satyabhakti
  • SULAWESI UTARA
  • Sumatera Utara
  • Sungailiat
  • TNI – POLRI
  • Peran Proses Penulisan Skripsi dalam Pembentukan Karakter Mahasiswa STT Satyabhakti Malang

    Okt 07 2024155 Dilihat

    Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti adalah sebuah sekolah teologi Kristen di Indonesia, yang berlokasi di Kota Malang, Jawa Timur.  Setiap tahunnya, STT Sati mewajibkan mahasiswa semester akhir menulis skripsi sebagai syarat dari kelulusan.

    Penulisan skripsi sering dianggap sebagai tantangan tersendiri bagi mahasiswa. Namun, banyak yang tidak menyadari bahwa proses ini memiliki peran krusial dalam membentuk karakter dan kepribadian mereka.

    Dalam wawancara dengan beberapa mahasiswa dan alumni dari STT Satyabhakti, Malang, mereka berbagi pengalaman dan pandangan mengenai bagaimana penulisan skripsi berkontribusi pada pengembangan diri mereka, termasuk dalam hal manajemen waktu, pengelolaan stres, dan peningkatan kemandirian.

    Salah satu aspek penting yang muncul dari pengalaman mahasiswa adalah manajemen waktu. Michael Nainggolan, alumni mahasiswa STT Satyabhakti, menjelaskan bahwa penulisan skripsi menuntut mahasiswa untuk memiliki kemampuan manajemen waktu yang baik.

    “Menulis skripsi membutuhkan fokus dan konsistensi. Ini bukan tugas yang bisa diselesaikan dalam waktu singkat,” jelasnya.

    Michael menyebutkan tantangan utama dalam menggantikan waktu untuk aktivitas tidak penting, seperti bermain game, dengan kegiatan produktif seperti mencari jurnal, menulis, dan melakukan wawancara.

    Tidak hanya itu, Michael juga menekankan pentingnya memiliki waktu untuk diri sendiri.

    “Penting untuk memiliki waktu ‘me time’ agar otak bisa beristirahat. Saya biasanya menghabiskan waktu dengan jalan-jalan, nongkrong atau tidur,” katanya.

    Dalam konteks ini, adanya deadline dari dosen pembimbing dan keinginan untuk menyelesaikan skripsi memotivasi mahasiswa untuk lebih bijak dalam menggunakan waktu mereka.

    Melihat lebih jauh, pengalaman menulis skripsi tidak hanya terbatas pada manajemen waktu. Michael mengungkapkan bagaimana proses ini mempersiapkan mahasiswa untuk pelayanan di masa depan.

    “Pengalaman saya dalam menulis skripsi membuka pikiran saya. Misalnya, saya menulis tentang ‘Penggembalaan Kaum Muda yang Berperilaku Nakal,’ dan sekarang saya aktif dalam pelayanan tersebut.” Ia menekankan bahwa pemilihan judul skripsi yang tepat sangat penting karena membantu mahasiswa mengenali minat dan pelayananan mereka setelah lulus.

    Namun, Michael mengingatkan bahwa tidak semua mahasiswa menyadari hal ini. “Banyak yang menganggap skripsi hanya sebagai syarat untuk wisuda, sehingga mereka memilih topik sembarangan. Padahal, ini adalah kesempatan untuk mengenal diri sendiri,” tambahnya.

    Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan diri melalui penulisan skripsi sangat tergantung pada kesadaran mahasiswa tentang nilai dari pengalaman tersebut.

    Stres adalah bagian tak terpisahkan dari proses penulisan skripsi, dan cara mahasiswa menghadapinya bisa memengaruhi karakter mereka. Aksamina, mahasiswi lainnya, berbagi bagaimana ia mengatasi stres dengan cara yang berbeda.

    “Ketika merasa tertekan, saya sering berhenti sejenak dan melakukan hal-hal yang menyenangkan, seperti menonton atau jalan-jalan,” ungkapnya. Ia percaya bahwa cara ini membantunya untuk kembali segar dan siap melanjutkan tugasnya.

    Angelina memiliki pendekatan serupa. “Saya biasanya mengatasi stres dengan beristirahat, makan, atau berbincang dengan teman. Proses ini membuat saya lebih bijak dalam mengatur waktu dan lebih terorganisir,” ujarnya.

    Pengalaman Angelina menunjukkan bahwa penulisan skripsi juga membuatnya lebih mandiri, karena tugas ini mengharuskan mahasiswi untuk bekerja secara individu tanpa banyak bergantung pada teman.

    Bebbie, salah satu mahasiswi  juga mengalami stres karena komunikasi dengan dosen pembimbing sulit dipahami, lantaran berkomunikasi melelui WhatsApp.

    “Stress terjadi karena kurangnya komunikasi yang jelas dengan dosen pembimbing, yang sering kali melalui WhatsApp, sehingga sulit untuk memahami. Cara saya mengatasi stres tidak teratur; terkadang saya merasa bingung, atau saya melarikan diri dari stres dengan membaca novel, atau saya berusaha disiplin untuk menyelesaikan target harian,” ungkapnya.

    Menurut Bebbie, minat yang kuat terhadap skripsi akan membantu mahasiswi tetap fokus dan tidak mudah bosan.

    Kemandirian dan kemampuan berpikir kritis menjadi aspek lain yang sangat penting dalam penulisan skripsi. Odorico dan Elsa menyoroti hal ini.

    Odorico mengatakan, “Menulis skripsi membuat saya lebih kritis. Saya harus membaca banyak literatur dan membandingkan ide dari berbagai penulis.”

    Proses ini, menurutnya, mengajarkan mahasiswa untuk mempertanyakan segala kemungkinan dan memperluas cara berpikir mereka.

    Elsa menambahkan bahwa penulisan skripsi juga mengajarkan pentingnya observasi.

    “Saat mengajukan judul, kita perlu menyertakan alasan pemilihan judul tersebut. Ini mengharuskan kita untuk mengamati lingkungan sekitar dan mencari tahu apa yang sebenarnya dibutuhkan,” jelasnya.

    Ia mengerjakan skripsi dengan judul, “Model Pembinaan Warga Gereja Bagi Generasi Z,” yang menuntutnya untuk mengeksplorasi berbagai perspektif.

    Elsa menjelaskan bahwa selama proses penulisan, mereka diarahkan oleh dosen pembimbing dan dosen penguji untuk memperbaiki tulisan.

    “Salah satu masukan bagi saya adalah mencari narasumber dari berbagai denominasi gereja untuk mengetahui bagaimana model pembinaan di masing-masing gereja. Kemandirian diperlukan untuk mencari narasumber, dan saya juga perlu merangkum berbagai jawaban yang bervariasi,” ujarnya.

    Proses ini menuntut mahasiswa untuk berpikir kritis tentang apakah jawaban narasumber telah menjawab pertanyaan yang diajukan.

    Aksamina menekankan bahwa dosen pembimbing memiliki pengaruh yang sangat besar dalam membentuk tanggung jawab mahasiswa.

    “Dosen pembimbing skripsi punya andil yang besar. Mereka sangat membantu mahasiswi dalam menunaikan tanggung jawab selama proses penulisan,” jelasnya.

    Sementara itu, Gabriella menyoroti pentingnya tanggung jawab selama menulis skripsi.

    “Saya mengerjakan skripsi sebagai syarat untuk kelulusan, tetapi juga karena saya penasaran dan ingin membantu orang lain, khususnya para pekerja Kristen di dunia usaha,” katanya.

    Ia merasa bahwa ini adalah bentuk tanggung jawabnya terhadap orang tuanya dan dosen pembimbing.

    Bayu menjelaskan bahwa penulisan skripsi dapat membentuk karakter mahasiswa.

    “Tekanan dari deadline dan sumber dapat membuat seseorang menjadi tergesa-gesa dan mudah tersinggung, tetapi karakter saya yang berkembang termasuk open-minded, rendah hati, dan bertanggung jawab,” ujarnya.

    Terakhir, Michael menambahkan bahwa menyelesaikan skripsi dapat meningkatkan kepercayaan diri mahasiswa. “Saya merasa lebih percaya diri, terutama dalam pelayanan penggembalaan kaum muda. Data yang saya peroleh dari skripsi serta masukan dari narasumber membantu saya dalam pelayanan,” ungkapnya.

    Dengan demikian, pengalaman menulis skripsi di STT Satyabhakti, Malang, menunjukkan bahwa proses ini lebih dari sekadar memenuhi syarat kelulusan. Ia merupakan momen penting dalam perjalanan pengembangan karakter mahasiswa dan mahasiswi, mempersiapkan mereka untuk menghadapi tantangan di dunia pelayanan yang nyata.

    Melalui wawancara dengan berbagai mahasiswa dari STT Satyabhakti, Malang, jelas bahwa penulisan skripsi memiliki dampak yang signifikan dalam pembentukan karakter mahasiswa.

    Dari manajemen waktu hingga kemampuan beradaptasi dengan stres, proses ini memberikan pelajaran berharga yang akan berguna di masa depan.

    Memahami bahwa skripsi lebih dari sekadar tugas akademis, mahasiswa maupun mahasiswi dapat mengubah pengalaman ini menjadi kesempatan untuk pertumbuhan pribadi dan profesional.

    Dengan demikian, penulisan skripsi bukan hanya sekadar syarat untuk kelulusan, tetapi juga merupakan proses penting dalam perjalanan mahasiswa untuk menjadi individu yang lebih bertanggung jawab, mandiri, dan siap menghadapi tantangan kehidupan.

    (Penulis: Gabrella T. M. Harianja yang juga aktif menulis di akun Kompasiananya, https://www.kompasiana.com/gabrella10597)

    Share to

    Related News

    Donor Darah SATI: Wujud Kasih Kristus Me...

    by Mei 19 2025

    Malang, 19 Mei 2025 — Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti (SATI) Malang menggelar kegiatan donor da...

    Serah Terima Jabatan BEM STT Satyabhakti...

    by Mei 18 2025

    Malang, 18 Mei 2024 — Sekolah Tinggi Teologi (STT) Satyabhakti Malang kembali mengadakan acara ser...

    STT SATI Adakan Bazar untuk Misi Pelayan...

    by Apr 29 2025

    Malang, 29 April 2025 – Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti (STT SATI) Malang kembali menunjukkan k...

    Seminar City to City: Membangun Gereja d...

    by Apr 28 2025

    Kamis, 25 April 2025 – Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti Indonesia (SATI) mendapat kesempatan ist...

    BEM STT Satyabhakti 2025/2026 Telah Terp...

    by Apr 09 2025

    Malang – Rabu, 3 April 2025 Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti (STT Sati) secara resmi mengadakan ...

    Mission Day 2025 is Coming: One Body, Ma...

    by Mar 21 2025

    Apa Itu Hari Misi? Hari Misi Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti (STT Sati) adalah kegiatan rutin tah...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    KPU KOTA BITUNG

    Other News

    Enrichment Perintis-Perintis Kota GSJA 2025: Re...


    Malang dan Surabaya – Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA) mengadakan kegiatan Enrichment Perintis-Perintis Kota 2025 yang bertujuan untuk membek...

    04 Mar 2025

    Kadis LH Bolmong Terima Penghargaan Dari Menter...


    Bolmong, Fokusjurnalis – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia menggelar Appreciation Night dalam rangkaian...

    10 Agu 2024

    777 Gründe für Spannung warten – Dein Lemon...


    Jackpots & Nervenkitzel: Lemon casino de – Dein Schlüssel zu grandiosen Gewinnen. Das Angebot an Spielen bei lemon casino de Bonusangebot...

    13 Feb 2025

    YSK- VM Resmi Gubernur Sulut, Dilaktik Presiden...


      FOKUSJURNALIS.ID — Momen bersejarah mencatat bahwa upacara Pelantikan Gubernur, Wakil Gubernur, Walikota dab Wakil Walikota serta B...

    23 Feb 2025

    Rapat Paripurna DPRD Tulungagung, Setujui Ranpe...


    TULUNGAGUNG,FOKUSJURNALIS.COM– DPRD kabupaten Tulungagung bersama Bupati Tulungagung resmi menyatakan persetujuan bersama terhadap rancang...

    10 Jun 2025

    Kantor Pertanahan Kota Medan menyampaikan ucapa...


    Fokusjurnalis.com, MEDAN – Mengawali tahun yang baru, Kantor Pertanahan Kota Medan menyampaikan ucapan Selamat Tahun Baru 2026 kepada selu...

    01 Jan 2026

    Bentuk Syukur TNI Memasuki Usia Ke 79 Tahun, Ko...


    Halsel. Fokus Jurnalis–Tentara Nasional Indonesia telah memasuki Usia Ke 79 Tahun, Sebagai bentuk Wujud Syukur Kepada Tuhan yang maha esa Kodi...

    03 Okt 2024

    Pimpinan Umum Ferry Mamangkey

    back to top